[REVIEW] NOVEL JIKA KITA TAK PERNAH BAIK-BAIK SAJA

Adakah manusia yang hidup baik-baik saja? Baik karena tanpa masalah. Baik karena semuanya berjalan sempurna. Apa yang dilakukan selanjutnya jika kebahagiaan yang diinginkan sudah terwujud? Lantas bagaimana dengan orang yang merasa tak baik-baik saja? Setujukah jika kebahagiaan dan keadaan baik sekalipun juga memiliki resiko?

Novel

Sinopsis Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja

Seri ketiga karya kak Alvi Syahrin “jika kita tak pernah baik-baik saja” ini membahas tentang cara kita bangkit setelah mengalami hal-hal menyakitkan. Bahwa kita semua pernah mengalami krisis, tak pernah baik-baik saja menerima keadaan, dan menyalahkan diri sendiri. Semakin dewasa, kita akan dihadapkan dengan permasalahan yang kompleks, putus cinta, patah hati, ditolak kerja, batal menikah,gagal kuliah,  hingga permasalahan yang sangat fundamental, yakni belum bisa mencintai diri sendiri. hal-hal itu seringkali membuat kita merasa tak Bahagia. Terlebih, jemari terus-terusan menggulir sosial media dan melihat ungguhan foto kesuksesan teman-teman. Rasa rendah diri menyeruak, disusul perasan iri. Lubang dihati mulai melebar, memberikan tempat untuk kokosongan mengisinya. mengarungi hidup adalah tentang seni mencintai diri sendiri dengan segala kekurangan, dan berusaha memperbaikinya.

Tak ada orang yang selalu Bahagia. Bak roda yang berputar, ada masanya sedih dan senang. Potret yang ditampilkan di sosial media hanyalah satu dari banyak fragmen kehidupan. Bagaimana bisa kamu sedih hanya karena melihat secuil bagian hidup seseorang?. Percayahlah, bahwa orang lain juga sama. Sama-sama pernah patah hati, ditinggalkan, insecure, dan berbagai hal manusiawi lainnya.

Di buku ini, mengajak kita mengenal arti kecewa dan bahagia demi mencintai diri sendiri dan sesuatu yang lebih dari segalanya. Penulis mengajak berdiskusi tentang kebahagiaan. Menunjukkan cara melepaskan dengan benar, menghiraukan yang pergi dan mensyukuri yang tinggal. Pada beberapa bab penulis juga bertanya tentang tujuan hidup dan cara menentukannya. Lalu pamungkasnya dia mengajari dan menyelipkan tips cara mencintai diri sendiri serta menemukan kebahagiaan dari pintu yang mungkin tak terduga sebelumnya. Ternyata banyak hal yang belum diketahui tentang kebahagiaan, bagaimana dia datang, menetap, lalu sirna. Terutama bagi ku.

Detail Buku

JuduL Buku  :Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja
Penulis  :Alvi Syahrin
Tahun Terbit  :2020
Penerbit  :Gagas Media
Jumlah Halaman :208 halaman
ISBN  :978-979-780-967-6
 

Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja

It’s Okay to feel sad. It’s okay to cry. Akan tetapi jangan biarkan rasa sedih ini mengalahkanmu.(hal 65)

Buku ini akan membawamu menuju dunia baru yang di dalamnya penuh dengan problema kehidupan. Meski kata orang itu sepele, tapi tak semua orang dapat melaluinya dengan mudah. Buku yang masuk ke lini pengembangan diri ini menurut saya sangat cocok untuk dibaca di era serba terbuka. Seluruh media sosial kini menjadi patokan kebahagiaan bagi beberapa orang. Mereka menganggap bahwa media sosial adalah sebuah kaca tembus pandang yang dibaliknya bisa kita lihat semua kegiatan dan pencapaian orang lain. Padahal enggak. Media sosial adalah sebuah penyaringan momen Bahagia yang seringnya dipilih bayak orang untuk dibagikan kepada pengikutnya.

Nyatanya, hidup tak melulu Bahagia. Apa yang akan kita perjuangkan kalau sekarang sudah bahagia? Ibarat makanan yang tak sedap bila hanya terdiri dari satu rasa saja, hidup pun sama. Jatuh bangun itu kewajaran. Menangis sedih itu kelumrahan. Tidak baik-baik saja adalah perasaan manusiawi yang dirasakan banyak orang. Tetaplah semangat, karena Pelangi sedang menunggumu di sana nanti ;).

Lebih dari Sekedar Motivasi

Tak hanya memotivasi diri untuk bangkit dan memahami segala hal yang nggak berjalan sesuai ekspektasi, Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja karya Alvi Syahrin ini juga menjadi sebuah cara untuk membesarkan hati.

Bahasa 

Penulis menyampaikan opininya dengan Bahasa lugas, tegas, dan berdasar. Penyampaian yang dilengkapi kisah inspiratif zaman dahulu memudahkan pembaca untuk menerima saran dari penulis, tak lupa diselipkan pengalaman pribadi penulis. Sehingga menghidupkan cerita dalam memotivasi. 

Buku ini cocok untuk orang yang merasa ada yang salah dalam kehidupannya, merasa ada yang kurang dan menganggap hidup orang lain lebih mudah. Juga untuk orang yang merasa sudah berbuat baik namun kebahagiaan atau hidup yang diinginkan tak kunjung datang. Penulis mengajak pembaca menguraikan satu persatu kegelisahan dan memacahkan. Hingga merasa tidak ada yang salah jika menjadi tak baik-baik saja. 

“ Sometimes, kindness is hard;ignoring is easy. I don’t wanna choose the easy road”.


Baca Juga    : [REVIEW] NOVEL JIKA KITA TAK PERNAH JADI APA-APA

Rate    : 4.5/5  🌟🌟🌟🌟🌟


Selamat Membaca ! 

Alfiyatun Rochmah
Hello, I'm Alfiya, majoring in accounting in the Computerized Accounting study program at Semarang State Polytechnic. This blog is about my experiences in school, relationships, travel and personal blogs. Most of the content on this blog will be written in Indonesian. Be Enjoy Guys!

Related Posts

Posting Komentar