Masa Keanggotaan 36 menanam pengalaman

September 21, 2020

 

Siammo Tutti Fratelli!

Kalimat yang dulu sering saya ucapkan. Namun, kini sedikit terkikis dari ingatan. Kalimat itu membuat saya terpacu untuk berlatih, lebih, dan lebih baik lagi. Tak peduli letih yang sering melanda.

Kita semua saudara. Kalimat itu adalah semboyan PMI. Semboyan yang dulu sering saya ucapkan sewaktu pertama kali menjadi anggota PMR tingkat madya sejak masih SMP dan masih berlanjut ketika masa SMK. Pengalaman saya tidak hanya cuman dibangku sekolah untuk menekuni bidang kepalangmerahan. Akan tetapi, masih berlanjut salah satu bidang kemahasiswaan bidang khusus yaitu Korps Sukarela (KSR) PMI yang bergerak dalam bidang kemanusiaan.

Setahun yang lalu waktu yang tidak cukup lama menjadi calon anggota KSR tingkat mahasiswa. Saya lebih banyak mendengarkan dan mengamati tingkah laku para pendahulu kami yang saat itu adalah Angkatan 34 dan Angatan 35. Dengan dikomandani Ndan Ghony Safitri, nama bekennya tak lain tak bukan ialah Ndan Ghony, angkatan kami berangsur-angsur paham dengan dinamika KSR meskipun masih rata-rata. Setelah angkatan 34 mengakhiri masa kepengurusannya, yaitu sekitar bulan Juli tahun 2020 yang dilaksanakan secara online, dimulailah masa kepengurusan Angkatan 35 yang dikomandani oleh Ndan Afiq Ardany Saputro, nama bekennya yaitu Ndan Afiq, sekaligus mengawali masa kepanitiaan kami Angkatan 36. Yuhuu, show must go on.

Kisah kami tak mungkin cukup jika hanya dituliskan dalam selembar dua lembar kertas. Tak bisa dipungkiri sulit memang menuliskan kembali kisah yang tak hanya satu dua hari terjadi. Ada suatu perasaan haru ketika harus menuliskan semuanya kembali. Haru, karena tak dirasa waktu telah menumbuhkan kisah seindah itu. Skenario langsung dari Sang Maha Pencipta, kami melalui semua momen kebersamaan dan akhirnya seperti sebuah rantai sebab-akibat, kebersamaan itu pun akan berlalu. Namun tak ada yang perlu disesali karena kisah ini bukanlah kisah romansa sia-sia yang tentunya tidak ingin saya kenang sendiri. Selamat membaca wahai saudaraku...

“ Jika kamu ingin berjalan cepat, maka berjalanlah sendiri. Namun jika kamu ingin berjalan jauh, maka berjalanlah bersama-sama... ” - Anonim.

Pepatah pembuka di atas, sedikit mewakili perjalanan kisah saya dan teman-teman.

 

Serba-Serbi Diklatsar 120 JAM

 

Diklatsar 120 Jam dilaksanakan sekitar pertengahan bulan September hingga pertengahan bulan November 2020. Diklat dilakukan selama dua kali dalam seminggu, setiap hari Sabtu dan Minggu berlangsung selama 10 periode. Kegiatan dimulai pukul tujuh pagi hingga pukul lima sore. Banyak sekali cerita, tawa, dan bahagia yang bercampur dengan emosi dan rasa lelah.dan disinilah kami sebagai calon anggota 36 yang disingkat Cata. Selama diklat, kami angkatan 36 dipanggil Cata. Disinilah saya bisa mengucapkan lagi kata “Siammo Tutti Fratelli” dan “Korsa” setelah masa PMR Wira berakhir. Selama prosesi Pendidikan dan Pelatihan Dasar  membuat saya mengingat materi-materi kepalangmerahan yang udah pernah saya pelajari sebelumnya oleh Coach saya  yang luar biasa keren sekali pada waktu SMK yang sering saya panggil dengan Coach Yy. Saya mempelajari banyak materi tentang kepalangmerahan dan pertolongan pertama yang dulu sangat rumit saya pelajari dan butuh proses untuk memahaminya. Materi yang saya ingat tentang sejarah PMI, pertolongan pertama, perwatan kedaruratan, keracunan, evakuasi, penilaian, dapur umum dan masih banyak lagi. Sejujurnya saya saat materi kebanyakan tidur, ngobrol dengan teman kanan dan kiri, hehe. Terkadang bosan seharian duduk mendengarkan materi. Saya fikir, kegiatan kepalangmerahan akan lebih bagus bila diajarkan sambil praktik, dan yeah! Praktik memang dilakukan dengan kegiatan yang berbeda tentunya lebih seru.

Pada waktu itu saya sempat berfikir untuk mundur karena banyaknya tugas kuliah, tidak bisa refreshing dan tidak bisa pulang ke kampung halaman. Melelahkan memang. Tetapi, alasan yang membuatku bertahan adalah sudah terlanjur mencari perlengkapan diklat yang rempong. Mungkin terdengar sepele tapi prinsip saya orang jawa mengatakan “ Yen wes kadung nyemplong, mending sekalian teles sisan” artinya “Kalau sudah terlanjur masuk, lebih baik diselesaikan sekalian”. Seusai diklat saya kira segera dilantik menjadi anggota KSR PMI unit Polines ternyata tidak harus benar-benar menikmati proses yang sedang dijalani.

 

Diklap 

Perjuangan kita tidak cuman sampai diklatsar  masih panjang banget yang harus ditempuh. Diklap (Pendidikan Lapangan) merupakan lanjutan Diklat 120 Jam yang dilakukan guna meningkatkan pengalaman lapangan tentang kepalangmerahan bagi calon anggota KSR PMI Unit Polines. Kegiatan pendidikan lapangan dilaksankan selama 2 malam 3 hari di lapangan bukit diponegoro, Tembalang. Disinilah mental saya dan teman-teman diuji  langsung terjun ke lapangan Survival untuk belajar bagaimana caranya bisa menjadi seorang relawan. Semangat para Cata 36 sangat besar ketika mengikuti diklap ini. Hal ini dibuktikan dengan keseriusan kami ketika melaksanakan beberapa simulasi yang telah ditetapkan panitia meskipun lelah dan capek menyelimuti raut muka kami.

 Kedatangan para senior alumni KSR PMI Unit Polines juga menambah seru kegiatan diklap benar-benar menguji mental saya banget waktu itu banyak banget pengalaman yang bisa saya dapatkan dari para senior. Pegalnya  diri kami Cata 36 ketika mondar mandir bersama tandu bambu yang dibuat sebelum hari H. awalnya memang diklap ini melelahkan akan tetapi, pengalaman baru terutama tentang kepalnagmerahan banyak didapat sepulang kegiatan sangat memuaskan. Yaa begitulah tugas seorang relawan yang tak kenal lelah.

 

Pelantikan 

Kami memilih untuk berjalan jauh hampir 10 Km lebih kami berjalan menahan rasa ngantuk, capek, sambil berjalan menikmati hujan dijalan yang tidak tau arahnya terlalu asing bagi saya  sepanjang perjalanan saya berfikir sebenarnya kami mau kemana? Kami  hanya dibekali sebuah kertas yang tertulis denah tempat tujuan kami, 4 botol minum, 2 tas, dan 2 buah senter oleh panitia. Pada  waktu itu, hujan deras ditengah malam yang melanda mengharuskan kami untuk memakai jas hujan supaya tidak membasai pakaian kami. Sebenarnya bukan jauh-nya yang kami pilih, namun kebersamaannya, hehe. Berjalan cepat memang membuat kami cepat sampai di tempat tujuan, tapi berjalan jauh membuat kami menjadi pembelajaran tangguh yang menghargai setiap proses pencapaian tujuan.

 

Coba ingat-ingat kawan rendang yang dimakan pada malam hari, hingga spageti sebagai santapan untuk di pagi hari nya. Jangan lupa lulur pisang yang kita buat sendiri dan bisa dimakan kaya akan vitamin guys. Pada  waktu kegiatan pelantikan KSR 36 banyak berbagai macam rintangan yang harus kami tempuh dan harus diselesaikan. Selama tiga hari dua malam, saya dan teman-teman harus berjuang mendaki pegunungan terjal untuk mencari pos-pos latihan yang gelap dan mencekam. Saya dan teman-teman berlatih survival dialam, tidur beralaskan rumput dan beratapkan langit.  Jujur waktu itu saya tidak merasa takut atau jijik. Bahkan jika difikir-fikir lagi, kalau sekarang saya harus mengulang prosesi gladi medan, rasanya tidak sanggup. Waktu terus berlalu, lelah, itulah yang kurasakan saat itu. Apalagi trending topiknya. “kapan dilantik menjadi anggota KSR PMI?” Saat itu kesabaranku benar-benar diuji hingga tibalah saatnya gladi medan,  Sebuah titik balik perjuangan saya dan teman-teman 36.

Setelah melewati perjalanan panjang akhirnya saya dan teman-teman pada 5 Januari 2020 kami  resmi menjadi Anggota KSR Angkatan ke 36 PMI Unit Polines dan sekaligus menjadi bagian dari PMI, Rasa haru, bangga, dan sedih bercampur menjadi satu saat itu.

Lihat udah sampai mana kita berjalan. Tetap bertahan ataupun mempertahankan meski sulit. Tapi yakin aja, Insyaa Allah kita bisa. Lemah kuatnya ikatan bisa datang sewaktu-waktu. Mari bergantian untuk saling menguatkan. Semangat Yaa Kawan-Kawankuu..Semangatt Berproses.

 

3 Kunci keselamatan jangan lupa .. apalagi yang terakhir berfikir positif

Tujuan apa yang sebenarnya hendak kami capai? Pertanyaan yang sulit karena ‘kami’ adalah kumpulan individu yang mempunyai visi dan misi pribadi yang berbeda-beda. Namun perbedaan itulah yang sebenarnya membuat ‘kami’ lebih indah dan berkesan. Puji syukur senantiasa saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah mempertemukan saya dalam sebuah organisasi kemanusiaan ini. Dan dari organisasi inilah kisah kami dimulai.

Semoga harapan ini bukan sekedar kata, tetapi diharapkan bisa jadi sesuatu yang nyata.

 

 

With Love

Alfiya AR

 

You Might Also Like

4 Post a Comment

  1. Jadi terkenang kembali kegiatan KSR masa lalu. Salam kenal, dek dari angkatan entah yang keberapa, hahahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga mb watik, terimakasih mbk sudah berbagi ilmu

      Hapus
  2. Kegiatan yang positif ini. Duluuuu waktu mamak ini masih muda dan kuliah di unnes pernah ikutan diklat KSR, hehe.. paling ingat pas belajar resusitasi buatan pakai boneka orang, jalan malam malam di anatara lumpur sawah, trus makan sesuatu yang kleter kleter dikira cacing , ternyata cuma mie. kalau sekarang kayaknya sudah tidak kuat jalan sejauh itu haha
    semangaaat dek. semoga sukses selaluu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mb dewi wah seru banget ya mbk kalau mengingat masa lalu ingin rasanya bisa mengulang lagi hehehe..

      Hapus

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *