Catatan Harian Sang Pembunuh (Episode 5)

by - Oktober 10, 2021

Berpikir tentang pembunuhan, mungkin ada banyak alasan yang melatarbelakanginya. Baik itu ketidaksengajaan, alasan ekonomi, dendam, dan sebab lainnya yang tidak pernah dibenarkan. Lalu bagaimana jika seseorang membunuh karena “ya suka saja melakukanya..”? Hal itulah yang berusaha digambarkan oleh buku ini.

Buku ini berkisah tentang Kim Byeong-su, seorang pria tua berumur 70 tahun yang didiagnosa mengalami Alzeheimer. Seiring dengan pertambahan usianya, dimensia pun turut menyerang dan membuat ingatan jangka pendeknya bermasalah. Ia tidak bisa mengingat hal-hal sederhana yang baru saja ia lakukan, namun masih bisa mengingat secara kronologis aksi pembunuhannya di masa lampau. Bahkan ia masih mengingat bagaimana ekspresi korban-korbannya sebelum mereka meregang nyawa.

Untuk mempertahankan ingatannya yang tersisa, ia membuat catatan-catatan serupa diary yang rajin ia tulis. Melalui diari inilah ia berusaha mempertahankan sedikit ingatannya. Penulisan melalui diary ini juga salah satu cara menarik untuk memperdalam karakter tokoh utamanya. Setiap kalimat yang ia tulis adalah murni dari dirinya sendiri sehingga tergambar betul karakter Kim Byeong-su yang bikin bulu kuduk merinding. Terlebih saat dengan gamblang ia menyebutkan setiap orang yang dibunuhnya tanpa rasa bersalah.
Fakta ini lantas menjadikan novel ini menarik. Ditulis menggunakan format jurnal yang tak menunjukkan kejelasan waktu, narator sekaligus Kim Byeong-su sendiri mengisahkan kehidupan di masa senjanya.

Dalam hitungannya, terdapat tiga fase kehidupan yang dijalani Kim Byeong-su: Masa remaja atau ketika ia kali pertama membunuh, sehabis remaja atau ketika gencar-gencarnya ia menjadi pembunuh berantai, dan masa kini atau ketika ia berhenti membunuh sama sekali. 

Soal yang terakhir, pembaca sudah diberitahu di bagian awal, bahwa ia sudah 25 atau 26 tahun tak melukakan pembunuhan. Dan di masa senjanya ini, ia mencoba menjalani hari-harinya sebagai pria tua biasa bersama anak tirinya, Eun-hee, yang selalu menjaganya mengingat dirinya mengidap demensia yang dari waktu ke waktu tampak mengkhawatirkan.
Segalanya pun barangkali bakal berlangsung lancar, kalau suatu hari ia tak bersepeda dan menabrak mobil milik Park Ju-tae, seorang pengusaha estat.
Pertemuan itu menerbitkan kecurigaan pada diri Kim Byeong-su, bahwa pria itu pelaku pembunuhan yang meneror para wanita muda di daerah tempat tinggalnya. Masalah lantas menjemput titik runyamnya dalam hidup Kim Byeong-su, begitu ia mengetahui putri tirinya, Eun-hee, menjalin hubungan dengan lelaki itu.
 
Terakhir kali aku membunuh seseorang adalah 25 tahun yang lalu-atau 26 tahun yang lalu? Kurang lebih begitulah. …
 
Namun, di balik sifatnya yang kejam dan sangat psikopat, Kim Byeong-su ternyata memiliki keahlian dalam menulis setelah mengikuti pelatihan menulis puisi pada masa mudanya. Ia juga gemar membaca karya-karya filosofis yang turut memperdalam suasana dan pandangannya dalam memaknai hidup. Keahlian yang dimilikinya makin menguatkan karakter menakutkan pada karakternya.
Bayangkan saja seseorang yang tidak memiliki rasa pengampunan seperti dirinya menyukai permainan kiasan kata yang membawa beribu makna. Terlebih puisi tentang darah dan kemarian yang selalu ditulisnya, ia terlihat benar-benar seperti binatang yang memiliki kemampuan berpikir dan merangkai kata.
 
Dibunuh adalah pengalaman terburuk. Aku tidak akan membiarkan diriku mengalaminya.



You May Also Like

0 Comments