Catatan Harian Sang Pembunuh (Episode 2)

by - Oktober 07, 2021

 Para Tokoh

Kim Byeong-su

Seorang pensiunan dokter hewan yang memilih hidup menyendiri bersama puterinya di pedesaan. Tak ada yang tahu, penggemar puisi berusia 70 tahun yang sudah pikun ini sudah membunuh banyak orang di masa mudanya.

Kim Eun-hee

Puteri semata wayang Kim Byeong-su. Seorang anak yang penyayang, namun kerap berselisih dengan ayahnya. Eun-hee tak tahu kalau kedua orangtua kandungnya adalah korban kesadisan Kim Byeong-su puluhan tahun lalu.

Park Ju-tae

Seorang polisi yang cukup ramah dan karismatik, calon suami pilihan Eun-hee. Namun Byong-su yakin pria ini adalah pembunuh berantai seperti dirinya sejak pertama bertemu.
Novella, Cerita Pendek, atau… 

Sebenarnya Diary of a Murderer ini apa, sih, ya? Novel, tapi, kok, pendek amat. Cerpen, tapi, nggak pendek juga. Jadi namanya apa? Dulu saya sering bertanya-tanya kalau menemukan cerita yang kayak begini. Sekarang sudah paham kalau ini namanya novella.
Barangkali masih awam dengan istilah novella seperti saya waktu itu, ini saya sertakan definisinya dari Merriam-Webster, ya.

Meskipun tema yang diusung lumayan bikin stres, seperti tren crime thriller di K-drama 2021, saya bisa bilang kalau Diary of a Murderer ini bacaan ringan. Ringan karena ceritanya cukup pendek, tidak bertele-tele dan cukup seru untuk diselesaikan dalam sekali jalan.
Ceritanya mencekam, serasa baca thriller Jepang. Tapi kalau thriller Jepang biasanya lebih terkesan dingin dan absurd, sih.

Penyajiannya cukup berbeda daripada thriller yang lain. Novel berformat catatan harian sudah biasa. Menjadikan seorang pembunuh sebagai narator sebenarnya juga bukan hal baru. Tapi di sini sang narator adalah pembunuh yang sudah pikun parah.
Kisah Kim Byeong-su, pensiunan dokter hewan yang juga pensiunan pembunuh berantai ini sangat menarik buat saya. Kim Young-ha menghadirkan sisi humanis seorang kriminal lewat tokoh Kim Byeong-su yang bertentangan. Tetap arogan dan berjiwa kriminal bahkan di tengah kerapuhannya sebagai manula yang menderita alzheimer, namun juga mengundang iba di saat bersamaan.

Ada sentuhan ironi di balik perasaan tak berdaya Kim Byeong-su yang dibalut sikap sinis. Rasa cintanya kepada sang anak, Eun-hee juga lumayan menyentuh. Di sinilah letak sisi humanis Kim Byeong-su, saat dia berpacu dengan alzheimer yang menggerogoti mentalnya untuk menyelamatkan Eun-hee.

Plot twist yang coba dihadirkan Kim Young-ha dari pertengahan hingga akhir cerita juga lumayan bagus. Memang tidak semengejutkan ekspektasi saya. Seperti yang sudah saya sebutkan, ini bukan alur cerita yang belum pernah dipakai penulis lain sebelumnya. Cuma sayanya sudah terlanjur hanyut ke arah yang diinginkan Kim Young-ha untuk kita tuju. Jadi, ya, cukup mengena.

Intinya, cerita ini cocok buat mereka yang suka crime thriller, tapi sudah jenuh dengan plot yang formulaic. Coba, deh. Nanti kalau sudah selesai baca bukunya, baru lanjut ke filmnya.


You May Also Like

0 Comments